Pawarta Japan: Culture
Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Februari 2015

Permainan memanggil roh di Jepang

Tahukah kalian anime yang berjudul Gugure! Kokkuri-san? Dalam anime itu si tokoh utama yang bernama Ichimatsu Kohina memainkan permainan yang disebut Kokkuri-san. Cerita dalam anime itu sih lucu dan kawaii.  Tapi disini kita tidak membahas tentang animenya melainkan tentang permainan Kokkuri-san yang dikenal sebagai permainan memanggil roh.


Jepang terkenal memiliki legenda urban yang menyeramkan, salah satunya adalah permainan pemanggil arwah yang disebut Kokkuri-san. Permainan ini hampir sama dengan permainan jelangkung dari Indonesia, perbedaannya jelangkung membutuhkan boneka yang dibentuk dari batok kelapa dan kertas bertuliskan huruf-huruf, sedangkan Kokkuri-san membutuhkan kertas yang bertuliskan huruf-huruf hiragana dan sebuah koin.

Cara permainan ini adalah dengan meletakkan telunjuk masing-masing peserta pada koin yang berada di atas kertas. Setelah itu mantra pemanggil Kokkuri-san dibacakan, mantranya adalah “Kokkuri-san, Kokkuri-san, oide kudasai (Kokkuri-san, Kokkuri-san, datanglah)”.


Jika koin bergerak maka hal itu menandakan bahwa ada arwah yang datang. Peserta permainan bebas bertanya apa saja selama permainan. Beberapa cerita menyebutkan bahwa Kokkuri-san hanya memberitahu para peserta mengenai tanggal kematian mereka. Jika ingin mengakhiri permainan ini, para peserta tidak boleh lupa mengucapkan selamat tinggal pada Kokkuri-san atau jika tidak mereka akan dihantui terus-menerus.

Cara lain agar selamat dari gangguan arwah Kokkuri-san adalah peralatan permainan tersebut harus dibuang dalam waktu tertentu. Seperti membelanjakan uang yang dipakai atau menggunakan pena yang digunakan untuk menulis hiragana. Kegagalan pada saat melakukannya akan mengakibatkan kemalangan atau kematian bagi para pemain.

Sekian artikel tentang Permainan memanggil roh di Jepang, semoga menambah pengetahuan kalian, matta ne.

Rabu, 25 Februari 2015

Matsuri, Festival budaya jepang

Matsuri adalah suatu festival atau perayaan budaya rakyat Jepang yang biasanya diselanggarakan sepanjang tahun diberbagai tempat di Jepang. Sebagian besar penyelenggara matsuri adalah kuil Shinto dan kuil Budha, namun ada pula matsuri yang bersifat sekuler dan tidak terkait dengan institusi keagamaan. Matsuri yang diselenggarakan pada musim gugur disebut dengan kunchi.




Karena merupakan kebudayaan rakyat tentu saja selalu ramai dan penuh dengan pengunjung. Sangat banyak penjual kaki lima yang berjualan disetiap festival ini. Selain kehadiran pedagang kaki lima, event matsuri di suatu tempat juga sangat mudah di temukan karena banyaknya peserta yang hadir dengan menggunakan pakaian yukata yaitu pakaian musim panas. 

Jadi kalau kita menemukan orang yang berpakaian yukata dalam jumlah cukup banyak di sekitar terminal maka bisa ditebak di sekitar tempat tersebut berlangsung suatu matsuri atau festival kembang api.

Matsuri biasanya berarti festival kuil namun kadang ada juga perkecualiannya, sedangkan matsuri tidak selalu berarti berdoa atau sembahyang, hal itu sudah pasti karena kebanyakan orang datang hanya untuk melihat saja dan seperti biasanya dalam sebuat event pengunjung selalu lebih banyak dibandingkan dengan pesertanya.

Sepertinya cukup sekian, semoga bermanfaat, matta ne.

Yukata, Kimono musim panas

Sejumlah orang asing mungkin sering keliru menyebut yukata dengan kimono. Maklum saja, yukata dan kimono sekilas memang tampak sangat mirip dan sulit dibedakan.


Perbedaannya adalah terletak pada bahan pakaian dan waktu pemakaian.
Yukata adalah pakaian santai berbahan katun tipis tanpa lapis, biasanya hanya dipakai saat musim panas, disamping mudah digunakan yukata mempunyai harga yang relatif murah sekitar 500.000 rupiah satu set, lengkap dengan Obi atau selendangnya. Sedangkan Kimono adalah pakaian resmi Jepang, berbahan tebal dan relatif sulit dalam pemakaiannya.

Dari segi design, yukata cenderung menggunakan motif bunga berwarna cerah untuk wanita dan berwarna gelap tanpa motif untuk pria. Dalam setiap perayaan budaya dan pesta kembang api yang umumnya hanya berlangsung di musim panas, sebagian besar pengunjung yang datang memakai yukata.

Sekian artikel tentang Yukata kali ini, semoga menambah wawasan anda, matta ne.